Lewati ke konten
RazinSaid

Electron vs Tauri: Pilih Mana untuk Aplikasi Desktop?

RS
Razin Said
4 menit baca
Bagian 12 dari 12 · Seri Belajar Electron dari Nol sampai Mahir

Lagi pengen bikin aplikasi desktop pakai teknologi web, tapi mentok di pilihan antara Electron atau Tauri? Dua-duanya sama-sama bikin kamu bisa bangun aplikasi buat Windows, macOS, sama Linux cuma modal HTML, CSS, dan JavaScript. Bedanya ada di dapur — cara kerja di balik layarnya beda jauh, dan beda itu yang nentuin ukuran aplikasi, kecepatan, sampai bahasa apa yang mesti kamu kuasai.

Nah, di sini kita bandingin dua-duanya pakai bahasa yang gampang dicerna, terus ditutup sama kapan waktunya pakai yang mana. Kalau kamu bener-bener baru di dunia ginian, mending baca dulu mengenal Electron: bikin desktop app buat pemanasan.

Bedanya dalam satu kalimat

Electron itu bawa "browser-nya sendiri" ke dalam aplikasi, sementara Tauri numpang browser yang udah nempel di sistem operasi penggunanya. Percaya deh, dari satu kalimat itu doang, hampir semua kelebihan dan kekurangan keduanya bisa dijelasin.

Electron itu apa sih?

Electron nyatuin Chromium (mesin di balik Google Chrome) sama Node.js jadi satu paket. Jadi tiap aplikasi Electron pada dasarnya nenteng-nenteng satu salinan Chromium di dalamnya. Efeknya: tampilan aplikasimu bakal persis sama di komputer mana pun, soalnya semuanya jalan di mesin render yang identik.

Aplikasi gede kayak Visual Studio Code, Slack, sama Discord dibangun pakai Electron. Itu udah jadi bukti kalau Electron sanggup buat produk skala besar.

Kalau Tauri gimana?

Tauri ngambil jalan yang beda. Ketimbang bawa Chromium sendiri, Tauri milih pakai webview bawaan sistem operasi: WebView2 (basisnya Edge) di Windows, terus WebKit di macOS sama Linux. Bagian "otak" aplikasinya ditulis pakai Rust, bahasa yang kesohor gara-gara ngebut dan irit memori.

Gara-gara nggak perlu nenteng browser sendiri, aplikasi Tauri jadinya jauh lebih kecil dan enteng. Malah sejak versi 2.0, Tauri udah bisa bangun aplikasi buat Android dan iOS juga, nggak cuma desktop.

Adu langsung

Aspek Electron Tauri
Ukuran installer Besar (~50–150 MB) Kecil (~3–10 MB)
Pemakaian RAM Lebih boros Lebih hemat
Mesin render Chromium (dibawa sendiri) Webview bawaan OS
Bahasa backend JavaScript (Node.js) Rust
Konsistensi tampilan Sama di semua OS Bisa beda antar-OS
Kematangan Sangat matang Muda tapi ngebut berkembang
Ukuran ecosystem Sangat besar Sedang, terus tumbuh

Soal ukuran dan performa

Nah ini nih bedanya yang paling kentara. Aplikasi Electron "Hello World" yang paling sederhana pun bisa segede puluhan megabita, ya soalnya kudu bawa Chromium. Aplikasi Tauri yang serupa? Bisa cuma beberapa megabita doang.

Soal memori, Tauri biasanya lebih irit soalnya webview sistem itu dipake bareng-bareng sama aplikasi lain, bukan dimuat ulang dari nol. Buat komputer yang RAM-nya pas-pasan, beda ginian tuh berasa banget.

Tapi jujur aja ya: Electron zaman sekarang udah jauh lebih efisien ketimbang dulu. Buat kebanyakan aplikasi, beda performanya nggak segede yang orang-orang bayangin.

Bahasa dan kurva belajar

Kalau latar belakangmu murni web (JavaScript doang), Electron lebih ramah. Seluruh aplikasi, dari tampilan sampai logika, bisa kamu tulis pakai JavaScript. Nggak ada bahasa baru yang wajib dipelajarin.

Tauri nulis bagian backend-nya pakai Rust. Buat fitur yang sederhana sih, kamu masih bisa lolos tanpa banyak nyentuh Rust. Tapi begitu butuh fitur sistem yang lebih dalem, mau nggak mau kamu bakal ketemu Rust — dan harus diakui, kurva belajar Rust itu lumayan nanjak buat pemula.

Konsistensi tampilan

Berhubung Electron bawa Chromium sendiri, kamu cukup nguji tampilan di satu mesin render doang. Apa yang kamu liat, ya itu juga yang bakal diliat semua pengguna.

Tauri kan gantung sama webview sistem, yang beda-beda tiap sistem operasi. Artinya, ada kemungkinan kecil tampilan atau fitur CSS tertentu kelakuannya nggak sama di Windows dan macOS. Ini agak ngingetin ke era "beda browser, beda hasil" yang dulu sering bikin pusing kepala.

Keamanan

Tauri emang dirancang dengan keamanan sebagai prioritas dari awal. Backend Rust-nya relatif aman dari kelas bug memori, plus Tauri pakai sistem izin (capabilities) yang ngebatasin apa aja yang boleh diakses aplikasi. Electron juga bisa kok dibikin aman, tapi tanggung jawabnya lebih banyak jatuh ke tangan developer (misalnya matiin akses Node.js di sisi tampilan).

Kapan mending pilih Electron?

  • Kamu cuma nguasain JavaScript dan pengen langsung produktif.
  • Aplikasimu butuh tampilan yang persis sama di semua sistem operasi.
  • Kamu butuh library atau plugin yang udah matang dan banyak contohnya.
  • Ukuran file sama pemakaian RAM bukan masalah utama buat kamu.

Kapan mending pilih Tauri?

  • Ukuran aplikasi yang kecil dan enteng jadi prioritas.
  • Kamu peduli sama keamanan dan efisiensi memori.
  • Kamu udah kenal Rust, atau siap belajar.
  • Kamu pengen satu basis kode yang sekalian bisa jalan di perangkat mobile.

Jadi, pilih yang mana?

Jujur, nggak ada yang menang mutlak. Electron itu pilihan aman dan praktis, apalagi kalau kamu datang dari dunia web dan pengen hasil yang konsisten plus ecosystem yang luas. Tauri itu pilihan modern yang enteng dan irit sumber daya, pas banget kalau kamu ngejar aplikasi kecil dan nggak masalah nyentuh Rust.

Saran praktisnya: kalau ini proyek pertamamu dan pengen cepet jadi, mulai aja dari Electron. Nanti begitu kamu udah paham konsep aplikasi desktop, bakal jauh lebih gampang buat nimbang apakah Tauri layak dicoba di proyek berikutnya.

Udah mantep sama Electron? Lanjut ke cara package & distribusi aplikasi Electron biar aplikasimu siap dibagiin, terus tambahin fitur auto-update dengan electron-updater.

Bagikan: XWhatsAppFacebookLinkedIn

Artikel terkait