Lewati ke konten
RazinSaid

Berawal dari Dapur yang Masih Serba Manual

RS
Razin Said
2 menit baca
Bagian 1 dari 5 · Seri Membangun smart_sppg: ERP untuk Program Makan Bergizi Gratis

Semuanya berawal dari satu obrolan dengan pemilik sebuah dapur SPPG. Buat yang belum tahu, SPPG itu singkatan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi — dapur resmi yang jadi ujung tombak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Merekalah yang belanja bahan baku, masak, mengemas, sampai mengantar makanan ke sekolah-sekolah setiap hari.

Dan skalanya nggak kecil. Satu dapur MBG bisa memasak ribuan porsi dalam semalam — biasanya produksi jalan dari jam sepuluh malam sampai menjelang subuh, supaya makanannya sampai ke anak-anak dalam keadaan segar. Di belakangnya ada banyak pihak yang harus bergerak barengan: vendor yang menyetok bahan, tim dapur yang memasak, petugas yang mengantar, sampai pihak sekolah yang menerima. Belum lagi soal uang — tiap porsi ada anggarannya, dan semuanya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Masalahnya, dulu semua itu diurus manual. Excel di mana-mana, ditambah catatan di kertas. Coba bayangkan sebentar: stok bahan dicatat manual, pesanan ke vendor manual, berapa porsi yang keluar hari ini dan ke sekolah mana saja juga manual. Uang masuk dan keluar? Direkap belakangan, manual juga.

Selama sekolahnya masih satu-dua, cara ini mungkin masih kebantu. Tapi begitu jumlah sekolah bertambah dan porsi hariannya naik, semuanya mulai keteteran. Angka gampang salah ketik, laporan telat, dan yang paling bikin repot: susah dipantau. Si pemilik nggak bisa melihat kondisi dapur secara langsung — dia harus menunggu rekapan, dan rekapannya sendiri sering nggak nyambung satu sama lain.

Ada satu hal lagi yang penting banget di program seperti ini: bukti serah-terima. Setiap makanan yang dikirim ke sekolah idealnya punya bukti bahwa memang benar-benar diterima. Kalau cuma mengandalkan kertas, gampang hilang, gampang dimanipulasi, dan bikin pusing kalau sewaktu-waktu ada pemeriksaan.

Jadi permintaan kliennya sebenarnya terdengar sederhana, tapi berat di eksekusi: dia ingin semuanya bisa dipantau dengan gampang, dan langsung terhubung antara dapur, vendor, dan sekolah. Targetnya satu — operasional yang tadinya serba manual bisa berjalan otomatis dan terkontrol penuh dari satu sistem.

Dari situlah smart_sppg ini saya bangun. Intinya satu sistem yang menyatukan seluruh rantai operasional dapur MBG: dari beli bahan ke vendor, produksi di dapur, distribusi ke sekolah lengkap dengan bukti digital, sampai pembukuan keuangannya — semua di satu tempat dan bisa dipantau langsung.

Karena tiap dapur beda-beda skalanya, sistem ini sengaja saya buat fleksibel. Mau satu sekolah atau puluhan, mau ratusan porsi atau ribuan, sistemnya tinggal mengikuti.

Dan iya, proyek ini saya kerjakan sendirian — dari rancang database, backend, sampai tampilannya. Makanya di seri ini saya mau cerita apa adanya: gimana saya memilih teknologinya, bagian mana yang paling bikin pusing, dan solusi yang akhirnya benar-benar kepakai.

Di chapter berikutnya, saya mulai dari fondasinya dulu: kenapa saya memilih NestJS, React, dan MySQL untuk proyek sebesar ini — termasuk beberapa pertimbangan yang mungkin beda dari dugaanmu.

Mau lihat hasil jadinya dulu? Mampir ke demo smart_sppg — login pakai akun demo yang tertera di halaman itu.

Bagikan: XWhatsAppFacebookLinkedIn

Artikel terkait